Minggu, 01 Desember 2013

Ternyata........ Part IV (Tulisan Sotfskill)

Lanjutannya...





          “Maura selalu datang disaat kami sedang ada latihan band. Dan dia juga selalu membawa makanan untuk kami. Akhirnya, aku dan Maura semakin dekat. Karena Maura, aku bisa sedikit demi sedikit melupakanmu. Aku mulai mengagumi sosok Maura yang ceria, lucu, dan menyenangkan. Karena itu, aku mulai juga menyukainya. Aku tau jika Maura itu adalah sahabat baik mu. Aku mengetahuinya dari kakaknya Maura, Rio. Maura pernah memintaku untuk bertemu denganmu, karena dia ingin memperkenalkan aku sama kamu. Tapi selalu aku tolak.”
          “Kenapa?”
          “Karena aku takut ketemu sama kamu. Aku engga bisa ketemu sama kamu. Aku engga mau Maura tau, kalau aku adalah mantan kamu. Aku hanya ingin menjaga perasaannya saja. Bukan karena aku engga mau bertemu dengan kamu Michelle.”
Gilang masih sama seperti dulu, yaitu selalu menjaga perasaan seseorang yang dia suka. Dulu, saat dia bersama dengan temannya, dia tak pernah bersikap cuek atau melupakan sosok aku disampingnya. Memang benar kata Maura, Gilang bisa membuat siapa saja yang ada didekatnya merrasa nyaman.
          “Sampai pada akhirnya, Maura meminta aku untuk mengantarkannya ke sebuah mall di dekat rumahnya. Dia ingin membeli sesuatu. Entah, apa yang ingin dia beli. Aku mengendarai mobilku dengan kencang. Saat aku menginjak rem, ternyata rem mobilku tidak berfungsi dengan baik. Akhirnya aku arahkan mobilku ke lapangan. Aku meminta Maura untuk loncat keluar dari mobil itu terlebih dahulu. Tapi dia tidak mau. Akhirnya kita meloncat keluar bersama. Namun saat meloncat, kepalanya Maura terbentur batu dan kakinya mengenai batang pohon. Dan dia tak sadarkan diri. Aku segera meminta tolong kepada orang-orang yang bisa membantuku. Syukurlah, ada beberapa orang yang membantu Maura dan sisanya menghentikan mobil untuk membawa Maura ke rumah sakit. Saat di rumah sakit, aku langsung meminta suster untuk menolong Maura secepatnya, karena dia terluka parah. Aku menuju ke bagian Receptionist dan memberikan nomor telponnya Rio untuk menelponya. Setengah jam menunggu, akhirnya kamu, Rio dan kedua orangtuanya Maura datang. Aku bersembunyi dari kalian semua.”
          “Kenapa kamu bersembunyi? Seharusnya kamu muncul dan menjelaskan semuanya kepada kami?”
          “Aku takut Michelle. Aku takut kalian menyalahkanku atas apa yang dialami oleh Maura. Aku takut kalian membenciku. Makanya aku bersembunyi dan menunggu waktu yang pas untuk menemui salah satu dari kalian.”
          Aku terdiam…
          “Tanpa kalian sadari, aku ada di dekat kalian. Aku ikut menunggu Maura di rumah sakit, tapi ditempat yang berbeda. Aku juga mengetahui setiap perkembangan kondisi Maura.”
          “Apakah kamu yang memakai jaket hitam dengan kupluk dan kacamata hitam?”
          “Iyah Chell. Itu aku. Aku yang menabrak kamu. Aku kaget. Ternyata orang yang aku tabrak itu kamu. Aku takut ketahuan sama kamu, makanya aku segera pergi dari rumah Maura.”
          Sampai sekarangpun aku masih tak menyangka atas semua yang terjadi. Bahkan aku tak pernah memikirkan Gilang. Entah, kemana perginya Gilang dari pikiranku.
          “Lalu yang dimakam, apakah itu kamu juga?”
          “Iyah itu aku.”
          “Aku engga pernah menyangka, kalau cowok misterius yang selalu Maura ceritakan sama aku itu kamu. Karena setelah kita putus, aku engga pernah mendengar kabarmu.”
          “Iyah Chell, maafin aku. Maafin aku, karena aku telah berbuat bodoh dan bersembunyi selama ini. Maafin aku Chell!”
          “Kenapa kamu meminta maaf sama aku? Kamu salah minta maaf sama aku. Seharusnya kamu minta maaf sama kedua orangtua dan kakaknya, bukan sama aku. Karena mereka yang lebih kehilangan Maura. Karena mereka yang selama ini dekat dengan Maura.”
          “Chell, aku mohon pertemukan aku dengan keluarganya Maura!”
          “Apa?? Maaf Gilang, aku engga mau!!!”
          “Tapi Chell, aku harus ketemu dengan keluarganya Maura. Aku mau menjelaskan semuanya sama mereka. Cuma kamu yang bisa aku harapkan..”
Saat aku ingin pergi dari Gilang, aku tersandung kaki kursi dan kepala ku terbentur dengan batu-batu kerikil. Akhirnya aku pingsan. Dan aku kaget, kemudian aku tersadar. Aku melihat disekelilingku. Aku berada ditempat yang berbeda. Kemudian aku melihat ada seseorang disampingku. Seorang wanita sedang terbaring pulas dikasur. Ternyata wanita itu adalah Maura. Aku bertanya-tanya. Kenapa Maura ada disini, bukannya dia sudah…??? Lalu tiba-tiba hp ku berdering, aku mengambil hpku dan melihat siapa yang menelpon. Aku kembali kaget, ternyata Gilang yang menelpon. Aku tekan tombol hijau, dan mendekatkan hpku ke telinga. Diujung sana Gilang berkata…
          “Sayang, kamu udah bangun? Kamu mau dijemput jam berapa?”
Sayang? Kenapa Gilang memanggilku sayang, bukankah aku dan dia sudah tidak ada hubungan lagi?
          “Hah?! Kenapa kamu memanggilku sayang?”
          “Loh? Aku kan emang pacar kamu. Kamu kenapa sih? Pasti nyawanya belum kumpul yah, makanya ngomongnya ngaco gitu!”
Pacar? Gilang pacar aku?? Aku masih bingung dengan Gilang yang berkata seperti itu. Tiba-tiba Maura mengangetkanku.
          “Chell, telponan sama sih pagi-pagi gini? Pasti sama Gilang yah, pacar lo. Yaudah gue mau mandi duluan yah, abis kalau lo duluan pasti lama mandinya..”
          “…”
Aku terdiam dan bengong melihat Maura. Diujung telpon, Gilang masih menunggu jawabanku.
          “Sayang… Kok diem sih? Jawab dong!! Kamu mau di jemput jam berapa??”
Aku kembali memejamkan mataku. Dan berhitung. 1… 2… 3… Mata kembali aku buka, tapi aku masih ditempat yang sama. Aku lihat dimeja belajar, ada foto disana. Aku menghampiri meja dan mengambil foto tersebut. Itu ternyata foto aku bersama Gilang.
Tangan kananku masih memegang hp. Aku lihat kembali ke layar hp, disana terlihat tersambung dengan Gilang. Kembali aku dekatkan hp ke telingaku.
          “SAAAYYYAANNGGGG????? KAMU KENAPA SIH KOK ENGGA JAWAB PERTANYAANKU???!!???!!”
          Gilang teriak.
          Mendengar teriakan Gilang. Aku sadar. Dan ternyata tadi itu adalah mimpi. Sungguh membuatku bingung. Karena mimpi itu terasa sangat nyata.
          “Iyah sayang, maaf! Jemput aku jam 06.30 yah…”
          “Kamu itu kenapa?”
          “Engga apa-apa sayang, nanti aku certain yah!”
          “Oke, bye sayang. Love you
          “Iyah… Love you too
Aku bertemu dengan Gilang dan menceritakan tentang mimpiku itu.
          “Hahaha…. Kamu lucu sayang, masa iyah kayak gitu.. Yah engga mungkin lah!! Aku cuma sayang sama kamu dan aku janji aku akan selalu ada disampingmu juga selalu menjadi kekasih yang mengerti kemauan kamu…”
Aku tenang mendengar Gilang berbicara seperti itu. Gilang memelukku dan berkata…
          “I will always love you Honey, and forever”
Lalu di mencium keningku dan memelukku lagi…

End...




Endriyana Ragesti
12212502
2EA27

Ternyata...... Part III (Tulisan Softskill)

Lanjutannya....




Tak terasa seminggu telah berlalu semenjak Maura pergi. Aku masih tak bisa melupakan sahabat ku itu. Terkadang, sedih masih menghampiriku. Aku menjadi sering ke rumah Maura. Entah, sepertinya aku merasa Maura masih ada disisiku.
          “Dooorrr!!!”
Seseorang mengagetkanku. Rachel. Kini dia menjadi teman yang dekat denganku. Rachel kenal dengan Maura, tapi tak sedekat aku dengan Maura. Walaupun waktuku kuhabiskan dengannya, aku tak bisa melupakan Maura.
Singkat cerita, Rachel mengajakku ke suatu tempat malam ini. Aku menolak. Namun Rachel memaksa. Dia membujukku. Akhirnya, aku mengiyakan ajakannya.
Aku datang ke tempat itu dengan Rachel. Saat aku memasuki ruangan itu, disana sudah banyak sekali orang. Seperti menghadiri acara pesta, tapi aku tak tau itu acara siapa??
Aku mengambil minuman. Aku cium aromanya. Aku takut itu minuman beralkohol. Setelah aku yakin itu bukan minuman beralkohol, aku meminumnya. Aku berkeliling melihat pesta itu. Disana tak ada seorang pun yang aku kenal, kecuali Rachel. Mungkin, mereka semua adalah temannya Rachel.
Dibelakang, aku menuju taman kecil yang dihiasi dengan lampu dan balon warna-warni. Ternyata didekat taman itu, ada sebuah kolam kecil dan terlihat ada ikan hias di dalamnya. Saat aku berjalan menuju kolam itu, tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiriku. Wajahnya tak terlihat, karena dia membelakangi sinar lampu. Semakin mendekat kepadaku, sedikit demi sedikit wajahnya mulai terlihat. Saat terlihat dengan jelas, aku kaget. Kaget melihatnya hadir dengan tiba-tiba dihadapanku. Dia tersenyum. Tiba-tiba, air matanya jatuh membasahi pipi. Dia memelukku dan berkata…
“Michelle.. Aku minta maaf, ini semua salahku!”
Aku hampir terjatuh saat menahan tubuhnya yang tiba-tiba memelukku. Aku tak mengerti kenapa dia meminta maaf kepadaku. Pertama kali aku melihatnya menangis seperti itu. Seperti orang yang menyesali perbuatan bodohnya. Lama tak bertemu, kini dia ada dihadapanku. Menangis. Memelukku. Meminta maaf. Lalu aku bertanya…
“Hai, kamu itu kenapa? Kenapa kamu meminta maaf sama aku? Emang kamu salah apa sama aku?”
Dia terus menangis. Dan tak menjawab pertanyaanku. Lalu aku menyuruhnya untuk duduk di kursi.
“Kenapa Lang?”
 Dia menunduk. Tiba-tiba dia marah. Kesal. Memukul-mukul kepalanya. Aku mencoba menghentikan perbuatanya dan menenangkannya.
“Tolong kamu jangan seperti ini! Aku engga ngerti kamu kenapa, aku mohon kamu jawab pertanyaanku.. Kamu kenapa Gilang?”
Dia diam. Kembali memelukku. Pelukkan itu terasa aneh bagiku. Aku juga merasa aneh dengan sikapnya yang seperti ini. Tak pernah aku melihat sikapnya yang seperti ini saat dulu aku bersamanya. Setelah beberapa menit, dia berkata…
“Aku telah melakukan perbuatan yang salah!”
“Perbuatan yang salah? Maksud kamu apa?”
Kembali dia terdiam. Entah. Mungkin dia berpikir bagaimana cara mengatakannya kepadaku.
“Gilang?” (sambil memegang pundaknya)
“Aku telah melakukan perbuatan yang salah terhadap Maura, Chell!”
Saat dia menyebut nama Maura, aku terkejut. Kembali teringat olehku saat Maura berbaring di rumah sakit. Kecelakaan itu membuat Maura koma. Lalu sadar, dan akhirnya dia meninggal. Aku diam dan bertanya-tanya. Pebuatan yang salah? Terhadap Maura? Apa maksudnya dia bicara seperti itu? Dari mana dia kenal Maura? Ada hubungan apa antara Gilang dan Maura? Apa Gilang ada hubungannya dengan kepergian Maura?
“Maksud kamu apa Gilang? Dari mana kamu kenal Maura? Apa yang telah kamu lakukan terhadap Maura?
Tatapan mataku tajam kearah Gilang.
Mataku berkaca-kaca.
Air mataku akhirnya menetes. Dia terdiam dan merasa teramat bersalah.
“Gilang jawab!!!”
          Nada suaraku meninggi. Aku marah. Aku kesal. Aku sedih. Semua menjadi satu perasaan yang tak bisa aku tebak.
“Aku yang bikin Maura kecelakaan hingga dia meninggal Chell…”
“Apa???”
Jadi dia yang membuat Maura jatuh hati. Karena Gilang, Maura selalu memuja-muji dan membuat Maura nyaman. Gilang, yang membuat Maura tak bisa menahan untuk tak cerita tentang sosok cowok itu kepadaku. Hanya Gilang, yang membuat Maura tak pernah cerita kepada keluarganya dan hingga membuat dia meninggal. Kenapa cowok misterius yang Maura ceritakan itu adalah Gilang? Kenapa seseorang yang dulu pernah menjadi someone special dihatiku, membuat aku kehilangan sahabat yang aku sayangi? Kenapa harus Gilang?? Air mataku mengalir deras dan membasahi pipiku. Sungguh tak pernah terlintas dipikiranku.
          “Aku mau menceritakan semuanya sama kamu Michelle..”
          “Aku mohon, tolong dengerin aku!”
Aku ingin pergi, tapi tanganku dipegang oleh Gilang. Dia memohon kepadaku untuk tidak pergi dan mendengar penjelasannya. Akupun duduk kembali disampingnya. Sebenarnya aku tak kuat dengan semua ini, namun aku mencoba sabar dan ingin tau apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka..
          “Saat itu, aku mencoba untuk mempertahankan hubunganku sama kamu        Michelle. Aku berusaha untuk tidak putus sama kamu. Tapi kamu sudah sangat membenci aku atas kejadian itu. Jadi aku sudah tidak bisa lagi untuk     tetap mempertahankan hubungan kita. Tapi sungguh, tak pernah terlintas     sedikitpun di pikiranku untuk selingkuh sama kamu, karena aku benar-benar           mencintaimu apa adanya dan menyanyangimu setulus hatiku.”
Aku sedikit terkejut mendengar pernyataannya itu. Aku salah menilai dia. Aku salah telah berbuat seperti itu dulu.
          “Setelah kita putus, aku belum bisa menerima itu semua. Karena aku masih   sayang sama kamu. Sampai akhirnya aku mengenal Maura. Maura adalah adik dari teman bandku, Rio. Dia yang mengenalkanku.”
Rio? Apa Rio yang Gilang maksud itu… Kakaknya Maura. Tapi kak Rio tidak cerita kepadaku.


Bersambung...

 



Endriyana Ragesti
12212502
2EA27