“Maura selalu datang disaat kami sedang ada latihan band.
Dan dia juga selalu membawa makanan
untuk kami. Akhirnya, aku dan Maura semakin dekat.
Karena Maura, aku bisa sedikit demi sedikit melupakanmu. Aku mulai mengagumi sosok Maura yang ceria,
lucu, dan menyenangkan. Karena itu, aku
mulai juga menyukainya. Aku tau jika Maura itu adalah sahabat baik mu. Aku mengetahuinya dari kakaknya Maura, Rio.
Maura pernah memintaku untuk
bertemu denganmu, karena dia ingin memperkenalkan aku sama kamu. Tapi selalu aku tolak.”
“Kenapa?”
“Karena aku takut ketemu sama kamu. Aku engga bisa ketemu
sama kamu. Aku engga mau Maura tau,
kalau aku adalah mantan kamu. Aku hanya ingin menjaga
perasaannya saja. Bukan karena aku engga mau bertemu dengan kamu Michelle.”
Gilang masih sama seperti
dulu, yaitu selalu menjaga perasaan seseorang yang dia suka. Dulu, saat dia
bersama dengan temannya, dia tak pernah bersikap cuek atau melupakan sosok aku
disampingnya. Memang benar kata Maura, Gilang bisa membuat siapa saja yang ada
didekatnya merrasa nyaman.
“Sampai pada akhirnya, Maura meminta aku untuk
mengantarkannya ke sebuah mall di dekat rumahnya. Dia ingin membeli sesuatu.
Entah, apa yang ingin dia beli. Aku mengendarai mobilku dengan kencang. Saat
aku menginjak rem, ternyata rem mobilku tidak berfungsi dengan baik. Akhirnya
aku arahkan mobilku ke lapangan. Aku meminta Maura untuk loncat keluar dari
mobil itu terlebih dahulu. Tapi dia tidak mau. Akhirnya kita meloncat keluar
bersama. Namun saat meloncat, kepalanya Maura terbentur batu dan kakinya
mengenai batang pohon. Dan dia tak sadarkan diri. Aku segera meminta tolong
kepada orang-orang yang bisa membantuku. Syukurlah, ada beberapa orang yang
membantu Maura dan sisanya menghentikan mobil untuk membawa Maura ke rumah
sakit. Saat di rumah sakit, aku langsung meminta suster untuk menolong Maura
secepatnya, karena dia terluka parah. Aku menuju ke bagian Receptionist dan
memberikan nomor telponnya Rio untuk menelponya. Setengah jam menunggu,
akhirnya kamu, Rio dan kedua orangtuanya Maura datang. Aku bersembunyi dari
kalian semua.”
“Kenapa kamu bersembunyi? Seharusnya kamu muncul dan
menjelaskan semuanya kepada kami?”
“Aku takut Michelle. Aku takut kalian menyalahkanku atas
apa yang dialami oleh Maura. Aku takut kalian membenciku. Makanya aku
bersembunyi dan menunggu waktu yang pas untuk menemui salah satu dari kalian.”
Aku terdiam…
“Tanpa kalian sadari, aku ada di dekat kalian. Aku ikut
menunggu Maura di rumah sakit, tapi ditempat yang berbeda. Aku juga mengetahui
setiap perkembangan kondisi Maura.”
“Apakah kamu yang memakai jaket hitam dengan kupluk dan
kacamata hitam?”
“Iyah Chell. Itu aku. Aku yang menabrak kamu. Aku kaget.
Ternyata orang yang aku tabrak itu kamu. Aku takut ketahuan sama kamu, makanya
aku segera pergi dari rumah Maura.”
Sampai sekarangpun aku masih tak menyangka atas semua yang
terjadi. Bahkan aku tak pernah memikirkan Gilang. Entah, kemana perginya Gilang
dari pikiranku.
“Lalu yang dimakam, apakah itu kamu juga?”
“Iyah itu aku.”
“Aku engga pernah menyangka, kalau cowok misterius yang
selalu Maura ceritakan sama aku itu kamu. Karena setelah kita putus, aku engga
pernah mendengar kabarmu.”
“Iyah Chell, maafin aku. Maafin aku, karena aku telah
berbuat bodoh dan bersembunyi selama ini. Maafin aku Chell!”
“Kenapa kamu meminta maaf sama aku? Kamu salah minta maaf
sama aku. Seharusnya kamu minta maaf sama kedua orangtua dan kakaknya, bukan
sama aku. Karena mereka yang lebih kehilangan Maura. Karena mereka yang selama
ini dekat dengan Maura.”
“Chell, aku mohon pertemukan aku dengan keluarganya Maura!”
“Apa?? Maaf Gilang, aku engga mau!!!”
“Tapi Chell, aku harus ketemu dengan keluarganya Maura. Aku
mau menjelaskan semuanya sama mereka. Cuma kamu yang bisa aku harapkan..”
Saat aku ingin pergi dari
Gilang, aku tersandung kaki kursi dan kepala ku terbentur dengan batu-batu
kerikil. Akhirnya aku pingsan. Dan aku kaget, kemudian aku tersadar. Aku
melihat disekelilingku. Aku berada ditempat yang berbeda. Kemudian aku melihat
ada seseorang disampingku. Seorang wanita sedang terbaring pulas dikasur.
Ternyata wanita itu adalah Maura. Aku bertanya-tanya. Kenapa Maura ada disini,
bukannya dia sudah…??? Lalu tiba-tiba hp ku berdering, aku mengambil hpku dan
melihat siapa yang menelpon. Aku kembali kaget, ternyata Gilang yang menelpon.
Aku tekan tombol hijau, dan mendekatkan hpku ke telinga. Diujung sana Gilang
berkata…
“Sayang, kamu udah bangun? Kamu mau dijemput jam berapa?”
Sayang? Kenapa Gilang
memanggilku sayang, bukankah aku dan dia sudah tidak ada hubungan lagi?
“Hah?! Kenapa kamu memanggilku sayang?”
“Loh? Aku kan emang pacar kamu. Kamu kenapa sih? Pasti
nyawanya belum kumpul yah, makanya ngomongnya ngaco gitu!”
Pacar? Gilang pacar aku?? Aku
masih bingung dengan Gilang yang berkata seperti itu. Tiba-tiba Maura
mengangetkanku.
“Chell, telponan sama sih pagi-pagi gini? Pasti sama Gilang
yah, pacar lo. Yaudah gue mau mandi duluan yah, abis kalau lo duluan pasti lama
mandinya..”
“…”
Aku terdiam dan bengong
melihat Maura. Diujung telpon, Gilang masih menunggu jawabanku.
“Sayang… Kok diem sih? Jawab dong!! Kamu mau di jemput jam
berapa??”
Aku kembali memejamkan mataku.
Dan berhitung. 1… 2… 3… Mata kembali aku buka, tapi aku masih ditempat yang
sama. Aku lihat dimeja belajar, ada foto disana. Aku menghampiri meja dan mengambil
foto tersebut. Itu ternyata foto aku bersama Gilang.
Tangan kananku masih memegang
hp. Aku lihat kembali ke layar hp, disana terlihat tersambung dengan Gilang.
Kembali aku dekatkan hp ke telingaku.
“SAAAYYYAANNGGGG????? KAMU KENAPA SIH KOK ENGGA JAWAB
PERTANYAANKU???!!???!!”
Gilang teriak.
Mendengar teriakan Gilang. Aku sadar. Dan ternyata tadi itu
adalah mimpi. Sungguh membuatku bingung. Karena mimpi itu terasa sangat nyata.
“Iyah sayang, maaf! Jemput aku jam 06.30 yah…”
“Kamu itu kenapa?”
“Engga apa-apa sayang, nanti aku certain yah!”
“Oke, bye sayang. Love you ♥
“Iyah… Love you too ♥
Aku bertemu dengan Gilang dan
menceritakan tentang mimpiku itu.
“Hahaha…. Kamu lucu sayang, masa iyah kayak gitu.. Yah
engga mungkin lah!! Aku cuma sayang sama kamu dan aku janji aku akan selalu ada
disampingmu juga selalu menjadi kekasih yang mengerti kemauan kamu…”
Aku tenang mendengar Gilang
berbicara seperti itu. Gilang memelukku dan berkata…
“I will always love you Honey, and forever”
Lalu di mencium keningku dan
memelukku lagi…
End...
Endriyana Ragesti
12212502
2EA27