Lanjutannya...
Paginya…
Aku dan kak Rio dikejutkan dengan dokter dan suster yang tergesa-gesa masuk
ke ruang UGD, dimana ada Maura di dalamnya. Aku takut terjadi sesuatu dengan
sahabat yang aku sayangi itu. Kak Rio pun cemas dengan Maura, ia pun menelpon
kedua orangtuanya untuk segera ke rumah sakit sekarang. Doa aku panjatkan
untuknya, supaya tak terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan. Beberapa menit
kemudian, kedua orantua Maura datang dengan wajah yang khawatir dengan kondisi
anak kesayangannya itu.
“Bagaimana kondisi Maura?”
“Dokter masih di dalam Ma, Maura masih di periksa..”
Satu jam menunggu, suster
keluar dari ruang UGD. Dia memberitahu kami, bahwa Maura sudah sadar dan dia
ingin bertemu dengan kami. Tapi kami tidak bisa masuk semua, akhirnya kedua
orangtua Maura yang pertama untuk bertemu dengan Maura di dalam.
Setelah kedua orangtuanya, Aku
dan kak Rio yang bergantian untuk melihat Maura di dalam. Saat aku masuk, sungguh
sedih melihat kondisi Maura yang terbaring di kasur dengan kepala yang di
perban dan kaki yang gips.
“Kak Rio..”
“Chell..”
Aku tak bisa menahan air mata
ini untuk tidak jatuh saat ia memanggilku dan melihat kondisinya yang seperti
itu. Aku menghampirinya…
“(Maura tersenyum) Gue kangen sama lo Chell”
“(aku hanya bisa tersenyum)”
“Kakak keluar dulu yah..”
Kak Rio pun tak kuat melihat
kondisi adek kesayangannya, memutuskan untuk keluar dan meninggalkan kami
berdua.
“Lo cewek yang kuat Ra, gue yakin lo pasti sembuh..”
“Iyah, gue pasti sembuh kok..”
Aku tak bisa bicara apa-apa
lagi, hanya bisa tersenyum dan membelai wajahnya yang masih bisa tersenyum
tegar tanpa sedikit pun sedih melihat kondisinya seperti itu. Tak bisa
lama-lama aku bersamanya, karena Maura membutuhkan istirahat yang cukup agar
kondisinya kembali pulih.
Tak lama, suster dan dokter kembali ke ruang UGD. Aku tak tau apalagi yang
terjadi dengan Maura di dalam. Kamipun kembali panik, khawatir dan takut
terjadi yang tidak kami harapkan. Akupun takut dan meneteskan air mata.
Setelah beberapa menit,
dokterpun keluar.
“Kondisi Maura kritis dan detak jantungnya sempat berhenti,
kami sudah melakukan usaha yang terbaik, tapi tuhan berkata lain. Maaf Pak, Bu,
Maura tidak bisa kami selamatkan..”
Menangis.
Hanya itu yang bisa aku
lakukan. Kedua orangtuanya pun tak kuasa menahan air mata dan ketidakrelaannya
kehilangan anak kesayangannya secepat itu. Kami langsung menuju ruang UGD dan
menghampiri jasad Maura.
“(aku menangis dan memeluk Maura)”
Kedua orang tuanya Maura
sangat terpukul, apalagi sang Mama. Mamanya Maura mencoba untuk membangunkan
Maura, seolah Maura sedang tidur terlelap.
Aku sendiri masih tak
menyangka, bahwa tadi adalah waktu yang paling berharga dan yang terakhir
kalinya untuk bisa melihat dia tersenyum. Aku tak percaya akan kehilangan
sahabat yang paling aku sayangi secepat itu.
Lagi-lagi menangis, menangis dan menangis yang bisa kulakukan. Kak Rio
mencoba menenangkanku dan membawa aku keluar dari ruang UGD. Jasad Maura dibawa
keluar dari ruang UGD untuk dimandikan dan disholatkan. Mamanya Maura menahan
Jasad Maura untuk di bawa pergi. Aku mencoba menenangkan Mamanya.
Setelah semua urusan dengan rumah sakit selesai, jasad Maura di masukkan ke
dalam mobil ambulance menuju rumahnya. Orang tuanya ikut bersama mobil
ambulance, aku dan kak Rio mengendarai mobil orangtuanya. Di rumahnya, sudah
banyak sekali saudara dan teman-temannya Maura yang menunggu kehadirannya.
Diperjalanan, aku hanya bisa menangis dan masih tak percaya.
Sesampainya dirumah, jasad Maura disambut dengan duka yang mendalam dari
saudara dan teman-temannya. Aku menuju teman-temanya Maura, yang kebetulan
mereka juga teman-temanku. Mereka bertanya tentang kejadian yang menimpa Muara,
lalu aku menceritakannya.
Tiba-tiba aku teringat akan
seseorang, yaitu cowok misterius yang selalu diceritakan oleh Maura. Dimana
keberadaannya sekarang? Apakah dia tau jika Maura sudah meninggal? Kenapa dia
tidak muncul disaat seperti ini? Dimana tanggung jawabnya dia, atas apa yang
dia lakukan terhadap Maura? Sungguh, aku semakin kesal dan menjadi penasaran
dengan cowok itu.
Saat aku berjalan, tiba-tiba…
BRUUKK!
Aku ditabrak oleh seorang
cowok. Dia memakai kaca mata hitam, celana hitam, jaket hitam dan menggunakan
kupluk jaketnya.
“Maaf!”
Dia meminta maaf kepada ku, lalu pergi. Aku
tak bisa mengenali wajahnya, tapi aku curiga dengannya.
Setelah disholatkan, kami
semua bersiap untuk mengantarkan jasad Maura ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Tangis dan haru, mengiringi perjalanan kami ke makam. Akhirnya kami tiba di
makam dan semuanya sudah siap.
Jasad Maura akan dimasukkan
keliang kubur. Air mata ku kembali menetes. Saat mata ku menoleh ke kanan, ada
seseorang yang berdiri di belakang pohon. Dia mirip dengan seseorang yang
menabrak ku tadi. Dia pergi dan hilang ditelan kabut.
Doa pun dipanjatkan. Tiba-tiba
tetesan air turun. Gerimis ikut mengiringi pemakaman Maura. Jasad Maura
tertimbun di dalam tanah dan semakin tak terlihat. Papan nama ditancapkan. Bunga
di tabur diatas gundukan tanah. Buket bunga diletakkan di dekat papan nama.
Kini, tak ada lagi canda tawa
yang khas dari seorang gadis periang yang selalu menghiasi hari-hari kami. Tak
ada lagi senyum yang indah dari bibirnya. Tak ada lagi kisah indah yang aku
rajut bersamanya. Semua, sudah terkubur bersama jasadnya. Selamat tinggal
Maura, kau akan selalu ada dihati kami yang mencintaimu dan menyayangimu.
Bersambung...
Endriyana Ragesti
12212502
2EA27
Tidak ada komentar:
Posting Komentar