Sabtu, 24 Januari 2015

PERILAKU KONSUMEN DI ERA 2000 (Tulisan)

Kini kita menghadapi suatu era baru yang ditandai oleh adanya kecenderungan globalisasi dunia sebagai akibat semakin banyaknya negara yang melaksanakan liberalisasi serta reformasi ekonomi yang ditunjang pula dengan majunya teknologi komunikasi dan transportasi. Globalisasi sendiri mengandung pengertian bahwa setiap negara bahkan setiap bisnis dan perusahaan, menghadapi persaingan global, baik secara langsung maupun tidak langsung. Globalisasi telah mengubah secara drastis pola produksi dari perusahaan-perusahaan multinasional. Sejalan dengan adanya perubahan tersebut, kerjasama multilateral dan regional semakin banyak dikembangkan guna mengantisipasi perkembangan yang sedang dan akan terjadi di masa mendatang.

Perkembangan industri otomotif di era global ini juga mengalami suatu lonjakan yang luar biasa, ini bisa ditunjukkan dengan membanjirnya produk-produk otomotif terutama sepeda motor yang berasal dari Cina yang memasuki pasar Indonesia.

Potensi pasar sepeda motor di Indonesia sangat besar dan merupakan produsen sepeda motor terbesar ketiga di dunia setelah Cina dan India. Pada tahun 2002 ini, Indonesia akan memproduksi dan memasarkan 2,5 juta unit sepeda motor, sementara Cina 12,5 juta unit sepeda motor, dan India 5 juta unit sepeda motor (Kompas, 13 Juli 2002).

Sepeda motor produksi Indonesia telah memasuki pasar ekspor, yaitu ke negara-negara ASEAN (Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Filipina), Argentina, Yunani serta Bulgaria. Sepeda motor yang dipasarkan di dalam negeri pada dasarnya adalah produk Indonesia, meskipun menggunakan merek-merek asing. Sebab, sepeda motor tersebut kandungan lokal (local content)-nya 85 persen. Mereknya bisa merek atau lisensi asing, tetapi sebenarnya adalah sepeda motor Indonesia karena yang membuat putra-putri Indonesia. Penggunaan merek atau lisensi asing, hanya bagian dari strategi pemasaran, dan jika merek-merek itu diganti maka akan merugikan secara pemasaran. Dalam hal ini yang sangat penting bukan mereknya, tetapi nilai tambah nasional yang luar biasa tinggi yang dapat kita rasakan.
Industri sepeda motor dalam negeri memiliki dampak berganda (multiplier effect) yang sangat besar. Saat ini ada 300.000 sub-kontraktor yang terlibat dalam industri sepeda motor dalam negeri, dimana sekitar 150.000 diantaranya adalah usaha kecil, sementara karyawan dari seluruh anggota Asosiasi Sepeda Motor Indonesia (AISI) mencapai 150.000 orang (Kompas, 13 Juli 2002).

Pertumbuhan penjulaan sepeda motor Indonesia dalam dua tahun (2000-2002) ini memang cukup menggembirakan. Tahun 2001 lalu, penjualan sepeda motor telah melampaui penjualan sepeda motor sebelum terjadi krisis ekonomi (1997). Jika tahun 1997 penjualan sepeda motor mencapai 1,80 juta unit, tahun 2001 telah mencapai 1,807 juta unit sepeda motor. Tahun ini (2002), penjualannya akan naik sampai 50 persen, ini berarti keterpurukan industri sepeda motor di Indonesia sejak mengalami krisis ekonomi, kini sudah teratasi (Jawa Pos, 23 Juli 2002).

Sikap sebagai salah satu faktor lingkungan internal, dapat mempengaruhi seseorang mengambil keputusan membeli produk. Sikap konsumen merupakan respon atau penilaian yang diberikan konsumen secara konsisten, konsekuen,menguntungkan atau tidak menguntungkan, positif atau negatif, suka atau tidak suka, setuju atau tidak terhadap suatu obyek. Mengetahui sikap konsumen terhadap suatu produk merupakan informasi yang sangat berharga bagi manajer pemasaran, karena dengan mengetahui sikap dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan segmentasi pasar. Sikap dapat dicerminkan melalui apa yang konsumen pikirkan, rasakan dan apa yang dilakukan terhadap produk yaitu dengan mengetahui apakah konsumen bersikap positif atau negatif terhadap produk atau merek.

Sikap mempunyai arti penting dalam pembuatan keputusan pemasaran dan ada kecenderungan yang kuat untuk menganggap bahwa sikap itu sebagai faktor yang paling kuat untuk memprediksi perilaku dimasa yang akan datang serta dapat membantu perusahaan meramalkan permintaan produk serta mengembangkan program pemasaran yang tepat. Sikap seseorang terhadap atribut produk dapat berbeda-beda karena keyakinan serta evaluasi terhadap atribut yang dimiliki produk tersebut. Disamping itu masih ada faktor lain yang turut berpengaruh yang pada akhirnya akan menentukan minatnya membeli suatu produk. Dalam penelitian ini sikap merupakan faktor yang mendapatkan perhatian dari peneliti, karena sikap merupakan faktor yang tepat untuk memprediksi/meramalkan perilaku konsumen dimasa yang akan datang. Jadi dengan mempelajari sikap konsumen diharapkan dapat menentukan apa yang akan dilakukan dimasa yang akan datang.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti sikap konsumen terhadap atribut produk sepeda motor merek Sanex dan Kanzen yang mengambil lokasi penelitian di kota Malang dengan berbagai pertimbangan sebagai berikut :
a. Kedua merek sepeda motor tersebut (Sanex dan Kanzen) telah memiliki pabrik di Indonesia, Sanex di Serang, Jawa Barat dan Kanzen di Karawang, Jawa Barat. Dengan kata lain, kedua merek sepeda motor itu bukan hanya sebagai Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM), tetapi telah menempatkan dirinya sebagai “Produsen” dan “Distributor” sekaligus.
b. Kedua merek sepeda motor itu mempunyai latar belakang teknologi rancang bangun produksi yang relatif berbeda, Sanex memakai teknologi dari Cina, sedangkan Kanzen memakai teknologi dari Korea.
Kedua merek sepeda motor tersebut menggunakan kandungan lokal (local content) yang cukup besar yakni diatas 60%, bahkan ditahun-tahun mendatang bisa dicapai kandungan lokal 100%. Oleh karena itu kedua sepeda motor itu patut disebut sebagai sepeda motor Indonesia (Leaflet Kanzen Motor, 2000 dan Sanex Motor, 2000)



SUMBER : https://fajridista.wordpress.com/2011/10/10/jurnal-perilaku-konsumen/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar