Pada
hari Rabu, tanggal 13 Januari 2016, saya dan teman-teman menghadiri Kuliah Umum
Ekonomi Syariah “Islamic Financial
Planning” dengan pembicara Bapak Hendro Wibowo, SEI., MM., CFP (Sekretaris
DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam) yang diselenggarakan pukul 08.30 di Gunadarma
Margonda, Depok. Kuliah umum ini, membahas tentang siklus perencanaan finansial
manusia selama kita hidup di dunia.
Dalam
kehidupan, tentu kita harus memiliki perencanaan keuangan untuk hari ini dan juga
untuk di masa yang akan datang. Mulai dari kita lahir sampai kita lansia, harus
ada perencanaan keuangan yang sangat matang. Pembicara menyebutkan, perencanaan
keuangan yang paling sering atau yang paling mudah yang dapat kita lakukan
adalah menabung. Menabung bisa dilakukan sedini mungkin, mulai dari mengumpulkan
uang di kaleng bekas susu atau kue kering dan lain-lain. Dengan ini kita bisa
terlatih untuk sabar, tekun dan yang paling penting kita harus memberitahukan kepada
anak untuk menanamkan niat dalam diri sang anak untuk menabung dan nantinya,
bisa mendapatkan hasil yang baik. Biasanya, orangtua memberikan uang untuk
anaknya dengan sebutan “Uang Jajan”,
seharusnya bukan uang jajan. Karena kata tersebut akan diserap oleh anaknya, si
anak akan menghabiskan uang tersebut untuk jajan dan tidak ada uang yang harus
di tabung oleh si anak. Seharusnya orangtua menyebutnya dengan “Uang Saku” dan beri pengetahuan tentang
menabung kepada anak dan si anak akan berpikir untuk menyisihkan uangnya untuk menabung.
Saat kuliah umum tersebut, Bapak Hendro juga berbicara jika “Menabung itu seharusnya disisihkan bukan
disisakan” karena jika menabung itu disisihkan,
kita bisa menyisihkan dari uang yang diberikan untuk ditabung dan sebagian
untuk jajan atau dibelanjakan. Tetapi jika disisakan,
tidak akan ada uang untuk ditabung, karena uang tersebut sudah habis untuk
jajan atau dibelanjakan.
Di
dalam kuliah umum, Bapak Hendro memainkan 2 (dua) video. Video pertama
mengisahkan seorang ibu yang sedang mengajarkan kedua anaknya (laki-laki dan perempuan)
untuk menabung. Ibu tersebut memberikan 2 celengan yang terbuat dari kaleng
bekas susu. Setiap harinya, Ibu tersebut memberikan uang dengan jumlah yang
sama kepada kedua anaknya dan selalu terdengar suara saat kedua anak tersebut sedang
memasukkan uang kedalam celengan mereka masing-masing. Sang Ibu sangat senang melihat
kedua anaknya benar-benar semangat untuk menabung. Namun sebulan kemudian, Ibu
mengumpulkan kedua anaknya duduk di meja makan dan ingin melihat seberapa
banyak uang yang sudah dikumpulkan oleh kedua anaknya. Kaleng pertama yang
dibuka punya anaknya yang perempuan, saat dikeluarkan jumlahnya sangat banyak
dan sang ibu bangga kepada anak tersebut. Kemudian, kaleng kedua punya anak
yang laki-laki, saat dikeluarkan ternyata jumlahnya sedikit dan banyak sobekan
kertas. Sang ibu kecewa kepada anaknya tersebut. Tetapi, paling tidak sang Ibu
sudah mengajarkan kedua anaknya untuk menabung. Video yang kedua, saya lupa
tentang apa, namun masih ada hubungannya dengan tema kuliah umum tersebut.
Bapak Hendro juga membawa dompet yang di
dalamnya terdapat uang yang sudah dipisah-pisah sesuai dengan keperluan beliau
seperti untuk uang makan, beli pulsa, belanja, termasuk juga untuk bersedekah,
dan lain-lain. Hal ini sangat menarik dan bisa saya contoh dalam menggunakan
uang untuk keperluan yang sesuai dengan porsi atau kebutuhan saya dan tidak
lupa juga menyisihkan uang untuk bersedekah kepada orang yang membutuhkan
ataupun untuk hal sosial lainnya. Selain menabung, Bapak Hendro juga membahas
mengenai Asuransi baik untuk pendidikan, kesehatan,bahkan kematian. Asuransi
diperlukan sebagai perlindungan atau ganti rugi secara finansial terhadap
kejadian-kejadian yang tidak diinginkan di kemudian hari atau di masa yang akan
datang. Jika suatu saat nanti terjadi sesuatu terhadap diri kita, asuransi bisa
menutup atau mengganti rugi sebagian kerugian yang kita alami.
Kuliah
umum ini juga membahas dan menjelaskan tentang membuat perencanaan keuangan, kita harus membuat
daftar rincian, untuk keperluan apa saja uang tersebut kita gunakan seperti
uang tersebut disisihkan untuk membayar listrik, telpon, air, untuk belanja
keperluan sehari-hari, untuk menabung, dan lain-lain termasuk untuk bersedekah.
Agar uang tersebut jelas kegunaannya dan tidak digunakan untuk membeli barang
yang tidak kita butuhkan. Apalagi jika kita sudah menikah, perencanaan keuangan
itu sangat perlu untuk mengatur keuangan dalam kehidupan sehari-hari. Jika sudah
berkeluarga, disarankan untuk suami dan istri memiliki tabungan masing-masing
dan ada juga tabungan bersama. Tabungan bersama itu, bisa digunakan untuk
membeli rumah, untuk umroh atau naik haji dan lain-lain.
Selain
hal tersebut diatas, kuliah umum ini banyak sekali yang dibahas oleh Bapak
Hendro dan tentunya sangat bermanfaat dan bisa kita terapkan dalam kehidupan
kita, terutama sebagai mahasiswa fakultas ekonomi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar